Karya Amal oleh hamba_tarbiyah

Cintanya Sampai Ke Mahsyar (Bhg.1)

Apr 28, 2009 , Posted by hamba_tarbiyah at 2:38 PM

“Marhaban bikum, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian. Aku berwasiat kepada kalian, bertaqwalah kepada Allah SWT. Telah dekat perpisahan dan telah hampir waktu pulang kepada Allah Ta‟ala.

Hendaklah Ali memandikanku, sedangkan Fadlal bin Abbas dan Usamah bin Zaid yang menuangkan air. Kemudian kafanilah aku dengan kainku jika kamu menghendaki, atau dengan kain putih buatan Yaman.


Makam Rasulullah S.A.W

Jika kalian selesai memandikanku, letakkan jenazahku di tempat tidur di rumahku ini, di atas pinggir lubang kuburku. Kemudian bawalah aku keluar sesaat. Maka yang pertama kali berselawat kepadaku adalah Allah „Azza wa Jalla, lalu Jibril, Mikail, Israfil, Izrail bersama pasukannya, kemudian segenap malaikat.

Sesudah itu barulah kalian masuk rombongan demi rombongan, dan solatkanlah aku.” Begitu mendengar wasiat Nabi, para sahabat tidak berkuasa untuk menahan tangisan.

Mereka menjerit…..”Ya Rasulullah, Tuan adalah rasul kami, penghimpun dan pembina kekuatan kami, serta penguasa segala urusan kami. Jika Tuan pergi, kepada siapakah kami ingin kembali?”

Rasulullah SAW bersabda, “Aku tinggalkan kalian di jalan yang terang. Aku tinggalkan untuk kalian dua juru nasihat yang berbicara dan yang diam. Penasihat yang berbicara ialah Al-Quran, penasihat diam ialah maut.

Jika kalian menghadapi persoalan yang musykil, kembalilah kepada Al-Quran dan sunnah; dan jika hati kalian kusut, tuntunlah dengan mengambil i‟tibar tentang peristiwa maut.”

Demikianlah sabda Rasulullah di kediaman isteri tercintanya, Sayyidah Aisyah RA kepada para sahabat ketika baginda merasa bahawa ajalnya sudah dekat.

Sejak itu, akhir bulan Shafar, Rasulullah SAW telah pun jatuh sakit. Semakin lama penyakitnya semakin berat. Suatu saat, ketika para sahabat berkumpul di kediaman Sayyidah Aisyah RA untuk menjaga Rasulullah SAW secara bergantian, Rasulullah SAW bangun dari tempat tidurnya dengan mengenakan ikat kepala, petanda sakitnya masih berat.

Telaga Haudh

Di depan para sahabat, beliau bersabda, “Wahai para sahabatku….. Sungguh, demi Allah, saat ini telah ku lihat Telaga Haudh di hadapanku. Demi Allah, aku tidak takut syirik akan menimpa kalian setelah aku wafat.

Tetapi yang ku takutkan, kalian saling berebut dunia, saling memperebutkan kekayaan. Itu yang aku takutkan.” Haudh adalah salah satu telaga di syurga.

Dari hari ke hari, kesihatan Nabi semakin memburuk, dan para sahabat mulai cemas. Suatu hari, ketika waktu subuh pada hari Isnin, sahabat Bilal mengumandangkan adzan di Masjid Nabawi.

Tapi hingga beberapa waktu, Nabi belum juga hadir. Ia lalu menyusul ke rumah baginda. Di depan pintu rumah, ia mengucapkan salam, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah.”

Namun, Nabi tidak menjawab..

Bersambung...

Currently have 1 comments:

  1. Syed Izham says:

    salam ziarah dan salam perjuangan buat Rahmat dari sahabatmu fizul..senyum sokmo

Leave a Reply

Post a Comment