Karya Amal oleh hamba_tarbiyah

Cintanya Sampai Ke Mahsyar (Bhg.3)

May 17, 2009 , Posted by hamba_tarbiyah at 8:57 AM

“Assalamualaikum, wahai penghuni rumah kenabian….”

“Wa’alaikumussalam. Maaf Rasulullah sedang sakit. Datanglah lain kali,” jawab Sayyidah Fathimah RA.

“Assalamu'alaika, ya Rasulullah. Salam sejahtera untukmu selamanya. Bolehkah saya masuk?” ujar Izrail lagi.

Mendengar salam khusus itu, Nabi membuka matanya lalu bertanya kepada Fathimah, “Anakku, ada tetamu ya? Siapa yang berada di pintu, hai Fathimah?”

“Seorang lelaki yang bersih sopan, rapi, dan wangi. Ia memanggil-manggil ayah dan minta izin untuk masuk. Saya katakan Ayah sedang sakit. Saya minta dia untuk datang lain kali.”

Tiba-tiba Nabi SAW memandang puteri tercintanya itu dengan tatapan yang menembus jauh, dengan cahaya pekat yang mengabut. Sayyidah Fathimah RA menggigil kerana hatinya tergetar.

“Izinkan tetamu itu masuk, Fathimah. Tahukah engkau siapa dia, anakku?” sabda Rasulullah SAW.

“Tidak”

“Dialah penjemput kenikmatan, pemutus nahsu syahwat, dan pemisah pertemuan. Dia adalah malakul maut.”

Sayyidah Fathimah RA terkejut, “Ayahanda, jadi mulai hari ini aku tidak akan lagi mendengar suaramu dan memandangi wajah jernihmu?” Sayyidah Fathimah menangis.

"Jangan bersedih dan menangis, jantung hatiku. Engkau adalah keluargaku yang mula-mula akan bersamaku di hari kiamat,” sabda Rasul SAW.

Mendengar itu, barulah Sayyidah Fathimah RA lega.
“Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” Tanya Nabi.

“Aku datang untuk berziarah, juga menjemput Tuan jika Tuan mengizinkan. Tetapi kalau tidak aku akan kembali.”

“Engkau datang sendirian? Di mana engkau tinggalkan Jibril?” Tanya Nabi sambil tersenyum.

“Aku tinggalkan dia di langit kedua bersama para malaikat lainnya.”

“Panggil dia kemari.”

Jibril Datang

Maka Malaikat Jibril pun turun ke bumi, menuju rumah kediaman Rasul, lalu duduk disebelah kepala Rasulullah SAW.

Beberapa saat Nabi memandang Jibril, lalu dengan sayu baginda bersabda,
“Jibril, mengapa engkau berlambat-lambatan? Tidakkah engkau tahu saat yang dijanjikan itu sudah hampir tiba?”

“Beri tahu aku bagaimana hakku di hadapan Allah nanti.” sabda Nabi lagi.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat berbaris berlapis-lapis menunggu kehadiran roh Tuan, seluruh gerbang syurga terbuka sebagai persemayaman Tuan.”

Namun wajah Nabi tetap suram dan gelisah. Lalu sabdanya lagi,
“Jibril, bukan berita itu yang kuinginkan. Beritahu aku, bagaimana umatku esok di hari kiamat.”

Maka dengan tenang Jibril menjawab, “Ya Rasulullah, Allah Ta'ala berfirman, Aku haramkan syurga dimasuki oleh para nabi sehingga engkau, Muhammad, masuk terlebih dahulu. Dan aku haramkan umat para nabi masuk ke dalamnya sehingga umatmu, Muhammad, masuk terlebih dahulu.”

Mendengar jawapan itu, barulah wajah Nabi berseri-seri.
“Alhamdulillah. Kalau begitu hatiku tenang, wahai Jibril.” Baginda merasa tenteram, kerana kaum muslimin mendapat hak dan tempat istimewa di hadapan Allah SWT.

Bibir baginda yang sudah memucat itu menyunggingkan senyuman. Senyuman istimewa itu juga baginda tujukan kepada Malaikat Izrail ketika baginda mempersilakan sang Pencabut Nyawa itu melaksanakan tugasnya.

Suasana mula penuh gundah gulana, angin kota Madinah meniupkan hawa dingin kering sehingga terasa dalamnya menusuk tulang. Sejengkal demi sejengkal matahari semakin naik meninggi ketika Malaikat Izrail berancang-ancang untuk mencabut nyawa Rasulullah SAW.

Penderitaan Nabi SAW semakin memuncak, walaupuan ketika saat nyawa baginda dicabut oleh Izrail dengan sangat perlahan dan lemah lembut sehingga ke pusat. Dahi dan sekujur wajah baginda bersimbah peluh.

Urat-urat di wajah baginda menegang dari satu detik ke satu detik. Sambil menggigit bibir, Nabi SAW berpaling ke arah malaikat Jibril. Mata Rasulullah SAW pun mulai basah, cahayanya semakin meredup.

“Ya Jibril, betapa sakitnya! Oh, alangkah dahsyatnya derita sakaratul maut ini.”
Sayyidah Fathimah RA memejamkan mata, sementara Ali bin Abi Thalib, yang berada di samping Rasulullah SAW, menundukkan kepala, sedangkan Malaikat Jibril memalingkan muka.

“Ya Jibril, mengapa engkau berpaling? Apakah engkau benci melihat wajahku?” tanya Rasul SAW.

“Sama sekali tidak, ya Rasulullah. Siapakah yang sanggup menyaksikan Kekasih Allah dalam kedaaan seperti ini? Siapakah yang sampai hati melihat Tuan kesakitan?” jawab Jibril.

Rasa sakit itu kian memuncak. Sekujur tubuh Nabi menggigil. Wajah beliau semakin memucat, urat-uratnya menegang. Dalam keadaan sakit yang tidak tertahankan itu baginda berdo'a,

“Ya Allah, alangkah sakitnya! Ya Allah, timpakanlah sakitnya maut ini hanya kepadaku, jangan kepada umatku.”

Usikum Bissolati

Mendengar sabda Rasul itu, Jibril tersentak. Betapa agungnya peribadi Rasulullah SAW. Dalam detik-detik paling getir dan menyeksa pun, bukan kepentingan untuk diri yang dimohonkan, melainkan kepentingan umatnya.

Andai baginda mohon agar rasa sakit itu dicabut, pasti Allah SWT mengabulkannya. Namun baginda lebih memilih sebagai tumbal agar derita itu tidak menimpa umatnya.

Malaikat Jibril menyedari keadaan di sekelilingnya sudah genting, Izrail sudah sangat berlemah lembut menarik roh Nabi SAW sehingga sampai ke dada. Nafas baginda semakin mulai menyesak.

Rasa sakit semakin menghebat. Ketika itulah, lelaki agung itu memandang ke arah sahabat-sahabatnya, lalu bersabda dengan suara lirih dan pandangan sayu,

“Usikum bissolati wa ma malakat aimanakum (Aku wasiatkan kepada kalian untuk mendirikan solat, dan aku wasiatkan kepada kalian orang-orang yang menjadi tanggungan kalian).”

Sejenak kemudian, kondisi Rasulullah SAW bertambah kritis. Para sahabat saling berpelukan lantaran tidak dapat menahan pilu. Ketika itulah tubuh Nabi SAW mulai dingin. Hampir seluruh bahagian tubuh baginda tidak bergerak-gerak lagi.

Mata baginda pun berkaca-kaca dan menatap lurus ke langit, hanya sedikit yang terbuka. Menjelang akhir hayat baginda, Ali bin Abi Thalib melihat Nabi SAW dua kali menggerak-gerakkan bibirnya yang sudah membiru.

Maka terus Ali segera mendekatkan telinganya ke bibir Nabi. Saidina Ali mendengar Nabi SAW memanggil-manggil,

“Ummati, ummati…. (Umatku, umatku…).”

Bersambung...

Currently have 0 comments:

Leave a Reply

Post a Comment